Pages

Senin, 05 April 2010

TUNDA PILKADA UNTUK PEMATANGAN KEMBALI PENYELENGGARAAN PILKADA BERSIH, JUJUR, ADIL, BERKUALITAS DAN KERAKYATAN..!!!

PERNYATAAN SIKAP TUNDA PILKADA UNTUK PEMATANGAN KEMBALI PENYELENGGARAAN PILKADA BERSIH, JUJUR, ADIL, BERKUALITAS DAN KERAKYATAN..!!! Salam Demokrasi Dalam demokrasi, pemilihan umum mendapat tempat terhormat dalam proses suksesi kekuasaan. Dalam perkembangannya, di Negara kita, Pemilihan Umum juga dilakukan di daerah (Pilkada) yang dilakukan secara langsung. Alam demokrasi prosedural terbuka selebar-lebarnya dan memaksa kompetisi menjadi sengit, dan bahkan sarat kecurangan. Otonomi daerah memang membuat elit politik tergiur untuk menjadi penguasa nomor 1 (satu) didaerahnya masing-masing. Kekuasaannya pun hampir tak terbatas, bahkan meliputi pengelolaan sumber daya alam masing-masing. Hal ini juga yang membuat para kandidat sangat akrab dengan investor dan konon sudah menjadi rahasia umum bahwa para investor tersebut berebut menjadi sponsor pada kandidat yang berkemungkinan menang. Dan jika ini adalah kenyataan, maka harapan perubahan nasib rakyat akan menjadi mimpi ditangan para kandidat. Mau tidak mau, suka tidak suka, pilkada sebagai proses politik pergantian kekuasaan yang dipilih langsung oleh rakyat akan tetap berlangsung. Namun kami percaya, bahwa tanpa intervensi kaum pergerakan, Pilkada Medan tidak akan berbuah apa-apa, khususnya untuk kemajuan demokratisasi dan perluasan kesadaran programatik massa rakyat. Ada baiknya bercermin dari pengalaman pemilu 2009 dan pilpres kemaren, saat itu betapa banyak kandidat yang keberatan dirinya disebut berbau “neolib”, artinya dari fokus konsentrasi intervensi pemilu, kaum pergerakan berhasil menjadikan “neolib” sebagai musuh bersama, sehingga banyak pihak, termasuk pemerintahan incumbent menjadi risih dengan cap beolib yang dilekatkan kepada dirinya. Neolib menjadi popular dan dipopulerkan juga oleh media, dan hingga saat ini perjuangan kaum pergerakan melangkah maju setapak dalam merumuskan musuh idiologis dan musuh bersama, yakni idiologi pasar bebas (neoliberalisme) dan rezim boneka neolib ditanah air, yang saat ini dipimpin oleh SBY – Budiono. Pilkada Medan akan menghabiskan anggaran Negara (uang rakyat) sebesar Rp 61 Milyar, jumlah yang tidak sedikit tentunya, untuk dihabiskan dalam pesta elit politik tersebut. Lantas apa kepentingan kita dalam kompetisi elit-elit politik tersebut..? kepentingan kita adalah mengawal dan memberikan perpektif kerakyatan seminimalis apa pun dalam proses tersebut. Mengawalnya sama artinya dengan tidak membiarkan uang kita (anggaran Negara) hanya dipakai untuk menciptakan proses politik pilkada yang korup dan curang. Mengawal itu tidak hanya sebatas normatif dan apolitis, namun juga harus menggagalkan potensi-potensi kecurangan yang akan dilakukan oleh kandidat yang paling pro terhadap neolib. Potensi tersebut sudah tercium dari diangkatnya Syamsul Arifin menjadi Pj Walikota Medan, yang artinya beliau saat ini sedang bertugas rangkap jabatan. Rangkap jabatan tersebut menyalahi aturan, yakni PP no. 06 tahun 2005 pasal 132 ayat 1, mengenai Pj kepala daerah haruslah diangkat dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan beberapa kriteria. Pj Gubsu harus dari eselon I jabatan strukturalnya sekurang-kurangnya IV/c, sedangkan Pj walikota Medan harus eselon II jabatan strukturalnya sekurang-kurangnya IV/b. Menurut kami ini bukan persoalan pelanggaran tekhnis semata, tapi kami menduga bahwa ini adalah scenario untuk mempertahankan dan menancapkan sedalam-dalamnya dominasi neoliberalisme di daerah-daerah termasuk Medan. Sudah sangat jelas, bahwa Syamsul Arifin bukanlah PNS, dia adalah politisi dari Partai Golkar yang tidak akan mungkin bersikap netral dalam pilkada Medan. Saat ini Syamsul Arifin atas SK Mendagri adalah pemimpin tertinggi sementara di kota Medan yang membawahi pemerintahan terkecil seperti Kecamatan dan Kelurahan serta banyak instansi yang berada dibawah koordinasinya (termasuk KPU bukan..?) Kami berani bertaruh, bahwa tak ada satu orang pun politisi yang dapat bersikap netral dalam proses politik, atas keyakinan saya diatas, maka saya menduga bahwa ini adalah persoalan untuk memenangkan sang agen neolib yang dipercaya oleh partainya para neolib-neolib bersarang, yakni Partai Demokrat (Rahudman – Eldin). Hal ini menjadi lumrah mengingat posisi Demokrat yang sedang babak belur di hajar partai koalisi SBY dalam kasus Bailout Century. Jadi kepentingan kaum pergerakan dalam Pilkada, selain mendorong terselenggaranya proses Pilkada yang adil, jujur, bersih, demokratis dan berkualitas, yang syarat pokoknya adalah Pemerintah RI (Mendagri) harus mencabut SK Pj Walikota Medan, juga berkepentingan untuk mengawal potensi kecurangan yang akan dilakukan oleh Incumbent. Kepentingan yang tak kalah pentingnya adalah segera mendesakkan program-program darurat rakyat kepada para kandidat yang bertarung, agar rakyat dengan cepat faham, mana yang layak dipilih dan mana yang layak disingkirkan. Capaian maksimalnya, menurut kami, Kaum pergerakan harus mampu mendesakkan ketetapan/peraturan yang mengatur tentang pencabutan mandat oleh rakyat atas kepala daerah yang terbukti gagal membawa perubahan, terbukti korup, dan melakukan perbuatan tercela. Proses pilkada langsung oleh rakyat juga harus diimbangi dengan proses pencabutan mandat langsung yang dijamin oleh UU. Silang Sengketa Pilkada adalah Bukti Ketidakberesan KPU Medan sebagai penyelenggara Pilkada telah mengumumkan 10 dari 12 pasangan yang mendaftar yang memenuhi persyaratan menjadi calon walikota/wakil walikota Medan. Lima pasangan diantaranya berasal dari partai atau koalisi partai dan lima pasangan lainnya berasal dari calon perseorangan (independent). Dalam perkembangannya terjadi “ribut-ribut” antara massa yang menolak pembatalan pasangan Rudolf Pardede – Afifudin Lubis. Dalam perkembangannya, PTUN dalam keputusan selanya No.18/G/2010/PTUN-MDN tanggal 26 Maret 2010, mengacu pada ketentuan Pasal 67 ayat 2, 3 dan 4 huruf a UU No.5 tahun tahun 1986 jo UU No.9 tahun 2004 jo UU No.51 tahun 2009, pada pokoknya mengabulkan gugatan penggugat serta memerintahkan kepada KPUD Medan selaku tergugat untuk menunda pelaksanaan tahapan pilkada. Bagi kami silang sengketa ini pasti akan semakin tajam, karena tidak punya pilihan selain mengadakan “banding” dan tentunya, tahapan Pilkada suka atau tidak suka harus di TUNDA. Atas penjelasan kami diatas, maka kami Aliansi Rakyat Medan (ARMed) dengan ini menyatakan sikap: 1. TUNDA Pelaksanaan Pilkada untuk keadilan semua pihak dan seluruh rakyat kota Medan sampai selesainya silang sengketa antara Rudolf – Affifudin VS KPUD Medan 2. Copot Pj. Walikota Medan Syamsul Arifin untuk demi keadilan dan tegaknya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, khususnya PP No. 06 tahun 2006, serta untuk menjamin profesionalitas Pilkada dan terhindar dari kemungkinan praktek-praktek kecurangan, nepotisme dsb. 3. Menolak dengan tegas Rahudman – Eldin sebagai calon Walikota Medan yang kami nilai sebagai perpanjangan tangan Pemerintahan Neolib SBY-Budiono. 4. Menyerukan kepada para kandidat untuk berlapang dada dalam mensukseskan Penundaan Pilkada untuk Keadilan dan profesionalitas penyelenggaraan PILKADA, dan menyerukan kepada rakyat kota Medan untuk mendukung Penundaan PILKADA Medan. 5. Menyerukan Kepada Rakyat untuk tidak memilih Calon yang Tidak Mengerti Persoalan Kemerosotan Ekonomi Rakyat dan Jalan Keluarnya. 6. Menyerukan kepada rakyat untuk TIDAK MEMILIH CALON WALIKOTA TUKANG GUSUR RAKYAT..!!! 7. Menyerukan kepada rakyat untuk mengontrol pelaksanaan Pilkada, melaporkan kandidat yang melakukan politik uang, dan kecurangan lainnya. Demikian pernyataan sikap dan seruan sikap ini kami buat, atas kerjasama dengan semua pihak, kawan-kawan pers kami ucapkan terimakasih. Medan, 7 April 2010 - Tunda Pilkada, Copot Syamsul Arifin sebagai Pj. Walikota Medan Sekarang Juga..!! - Perkuat Persatuan Rakyat untuk Menciptakan PILKADA Bersih, Jujur, Adil, Berkualitas dan Kerakyatan..!! - Perkuat Persatuan Gerakan Intervensi Pilkada Medan untuk Kemenangan Program Perjuangan Rakyat ALIANSI RAKYAT MEDAN (ARMed) Randy Syahrizal Koordinator Umum


ARMed


ALIANSI RAKYAT MEDAN (ARMed)
Sekretariat: Jl. Karya Dame Gg. Rukun, No. 5 D, Medan – Sumatera Utara
Kontak Person : 0878 6821 8622

 

Profil Singkat Aliansi Rakyat Medan

Aliansi Rakyat Medan adalah kelanjutan dari Aliansi yang pernah dibangun sebelumnya dengan nama Komite Aksi Rakyat Medan (KARAM) yang diprakarsai oleh 3 Organisasi, yakni : Lembaga Swadaya Masyarakat Pijar Keadilan (LSM Pijar Keadilan) Medan, Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sumatera Utara dan Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (PRD) Kota Medan. Aliansi Rakyat Medan atau yang disingkat dengan ARMed dibentuk pada tanggal 25 Maret 2010 di Jalan Karya Dame, Medan. Aliansi ini dibangun untuk menyikapi dan merespon Pilkada di Kota Medan, dengan program perjuangan pokok yakni “Menciptakan Pilkada Bersih, Jujur dan Adil dalam Melahirkan Pemimpin yang Berkualitas”. Dalam perjalanannya, kami menilai bahwa pelaksanaan Pilkada kota Medan 2010 belum lah mencerminkan suatu pelaksanaan Pilkada yang berkualitas. Atas dasar itu lah kami membentuk sebuah Aliansi yang bersifat terbuka untuk individu maupun organisasi yang sama-sama ingin berjuang dalam mewujudkan Pilkada Bersih, Jujur, Adil dan Berkualitas.

Kami juga percaya bahwa Pilkada sejatinya adalah konsolidasi ulang kekuasaan, yang banyak ditunggangi kepentingan-kepentingan kapitalis (pemodal), baik modal dalam negeri maupun modal asing, yang dalam hal ini sering kali berposisi sebagai sponsor para kandidat. Menurut kami tujuan mereka sangat jelas, yakni agar mudah menguasai birokrasi dan tidak dipersulit dalam hal pengurusan administrasi penanaman modal di Kota Medan. Kami juga menilai bahwa Pilkada hanyalah sebuah suksesi kekuatan, dimana Rakyat sebagai konstituen bukanlah sebuah yang bersifat aktif, melainkan pasif. Rakyat hanya aktif (itupun digerakkan dan bukan tergerak) sebagai pemilih, tapi tidak aktif sebagai pelaku Kontrol kebijakan. Kepala Daerah harus dipilih langsung oleh rakyat, tapi tidak bias sebaliknya, dapat diturunkan langsung oleh rakyat. Inilah yang kami maksud sebagai objek pasif dalam pelaksanaan Pilkada. Meskipun demikian kami tetap menilai peran sentral rakyat dalam menentukan arah Pilkada kedepan, dan menurut kami, kekuatan rakyat harus menjadi posisi tawar bagi para kandidat untuk berbicara dan menyikapi serius persoalan-persoalan ekonomi rakyat dan merumuskan jalan keluarnya bagi rakyat. Hanya pertarungan yang programatik dan bervisi-misi kerakyatan lah yang akan membuat Pilkada Medan berkualitas dan menggerakkan rakyat untuk mau memilih dan dating berbondong-bondong ke TPS.

Struktur Kepengurusan Aliansi Rakyat Medan

Koordinator Umum                 : Randy Syahrizal

Wakil Koordinator                   : Ryan Nata Koesoema S.T

Humas/Jubir                            : Elbiando Lumban Gaol

Koordinator Lapangan            : Reinhard Sinaga SH
Wakil Koord.Lapangan           : Daniel Silaban

Divisi Propaganda                   : Reguna Ginting SH
                                                 Bonatua Pakpahan SH

Divisi Posko                            : Drs. Amir Sitompul
                                                  Dodi Siagian SH
                                                  Fredy Togatorop    

SIFAT ALIANSI
Aliansi Rakyat Medan (Armed) bersifat terbuka, baik individu maupun organisasi, yang bertujuan sama sesuai dengan platform ARMed dan perjuangan menegakkan demokrasi di Kota Medan. Aliansi ini juga tidak membatasi diri kepada siapa pun tanpa memandang Suku, Ras, Agama dan Antar Golongan.
ORGANISASI PENDUKUNG ARMed

  1. DPC – LSM Pijar Keadilan Kota Medan
  2. EW – LMND Sumatera Utara
  3. KPK – PRD Kota Medan

PROGRAM PERJUANGAN

Umum
Menciptakan Pilkada Bersih, Jujur, Adil, Berkualitas dan Kerakyatan sebagai Syarat Membangun Pemerintahan Kota yang Demokratis dan Kerakyatan

Darurat
- Mencabut SK Mendagri tentang Pj. Walikota Medan yang Mengangkat Gubsu Syamsul Arifin sebagai Pj. Walikota Medan yang berarti melanggar PP No.06 tahun 2006

- Menolak Rahudman Harahap – Eldin sebagai Calon Walikota dan Wakil Walikota Medan karena terbukti Anti Rakyat, pelaku terbesar penggusuran di Kota Medan.

Khusus
1.         Mendesakkan Program Tinjau Ulang Kontrak dengan Modal Asing dan Menetapkan Pajak Progresif bagi kalangan Pengusaha Besar dalam membiayai subsidi kebutuhan pokok rakyat.
2.         Menolak Eksplorasi Kekayaan Alam oleh Modal Asing
3.         Membangun Perusahaan Negara (BUMD) untuk Menyerap Tenaga Kerja
4.         Mendesakkan Kontrak Politik Kenaikan Upah Buruh (UMR) sesuai Kebutuhan Hidup Layak (Rp 1.500.000/bulan mengacu pada hasil Survei Pengurus Pusat Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia/PP-FNPBI)
5.         Mendesakkan Kontrak politik untuk kepentingan kaum buruh, yakni segera menetapkan status kerja tetap bagi pekerja yang telah bekerja selama 2 bulan dan menolak system kerja kontrak.
6.         Mendesakkan Kontrak Politik untuk Kepentingan Kaum Pedagang Kecilan (Kaki Lima dan Asongan) untuk menjamin tempat usaha yang layak, dan menolak segala bentuk penggusuran.
7.         Mendesakkan kontrak Politik untuk Kepentingan Usaha Kecil Menengah (UKM) yakni dengan pemberian modal lunak dan sarana produksi yang memadai.
8.         Mendesakkan kontrak politik reformasi birokrasi untuk memudahkan segala urusan administrasi rakyat (KPT, Kartu Keluarga, Surat Nikah dll), dan menciptakan birokrasi yang bersih dan bekerja cepat untuk rakyat.
9.         Mendesakkan Kontrak Politik untuk kepentingan peserta didik, yakni mewujudkan program pendidikan gratis 12 tahun (SD s/d SMA) dan menjamin terpenuhinya gizi peserta didik.
10.     Mendesakkan kontrak politik untuk kepentingan kesehatan rakyat miskin (sesuai ketentuan dan standarisasi kemiskinan versi PBB) dengan menggratiskan biaya rumah sakit yang ditanggung oleh APBD.

SLOGAN
1.       Perkuat Persatuan Rakyat untuk Menciptakan PILKADA Bersih, Jujur, Adil, Berkualitas dan Kerakyatan..!!
2.       Perkuat Persatuan Gerakan Intervensi Pilkada Medan untuk Kemenangan Program Perjuangan Rakyat
3.       Tunda Pilkada, Copot Syamsul Arifin sebagai Pj. Walikota Medan Sekarang Juga..!!


SEKRETARIAT
Alamat: Jalan Karya Dame Gang Rukun No. 5 D, Medan – Sumatera Utara, Cp. 0878 6821 8622

Minggu, 28 Maret 2010

Menggagas Gerakan Intervensi Pilkada Medan

 Oleh: Randy Syahrizal

Dalam demokrasi, pemilihan umum mendapat tempat terhormat dalam proses suksesi kekuasaan. Dalam perkembangannya, di Negara kita, Pemilihan Umum juga dilakukan di daerah (Pilkada) yang dilakukan secara langsung. Alam demokrasi prosedural terbuka selebar-lebarnya dan memaksa kompetisi menjadi sengit, dan bahkan sarat kecurangan. Otonomi daerah memang membuat elit politik tergiur untuk menjadi penguasa nomor 1 (satu) didaerahnya masing-masing. Kekuasaannya pun hampir tak terbatas, bahkan meliputi pengelolaan sumber daya alam masing-masing. Hal ini juga yang membuat para kandidat sangat akrab dengan investor dan konon sudah menjadi rahasia umum bahwa para investor tersebut berebut menjadi sponsor pada kandidat yang berkemungkinan menang. Dan jika ini adalah kenyataan, maka harapan perubahan nasib rakyat akan menjadi mimpi ditangan para kandidat. 

KPU Medan sebagai penyelenggara Pilkada telah mengumumkan 10 dari 12 pasangan yang mendaftar yang memenuhi persyaratan menjadi calon walikota/wakil walikota Medan. Lima pasangan diantaranya berasal dari partai atau koalisi partai dan lima pasangan lainnya berasal dari calon perseorangan (independent). Dalam perkembangannya terjadi “ribut-ribut” antara massa yang menolak pembatalan pasangan Rudolf Pardede – Afifudin Lubis. Namun tulisan ini bukanlah ingin membahas persoalan tersebut secara terperinci. Menurut saya, KPU Medan sebagai penyelenggara memang berhak mengambil keputusan, namun harus tetap mengacu pada Hukum dan Undang-Undang yang berlaku, agar masyarakat kota Medan mendapatkan kepastian hukum terkait persoalan tersebut. 

Gerakan Memaknai Pilkada Medan  

Mau tidak mau, suka tidak suka, pilkada sebagai proses politik pergantian kekuasaan yang dipilih langsung oleh rakyat akan tetap berlangsung. Namun saya percaya, tanpa intervensi kaum pergerakan, Pilkada Medan tidak akan berbuah apa-apa, khususnya untuk kemajuan demokratisasi dan perluasan kesadaran akan masalah dan jalan keluar kemiskinan yang dialami masyarakat. 


Kaum pegerakan pernah memenangkan opini dalam pertarungan pemilu, dan itu adalah politik intervensi ekstra parlemen. Ada baiknya bercermin dari pengalaman pemilu 2009 dan pilpres kemaren, saat itu betapa banyak kandidat yang keberatan dirinya disebut berbau “neolib”, artinya dari fokus konsentrasi intervensi pemilu, kaum pergerakan berhasil menjadikan “neolib” sebagai musuh bersama, sehingga banyak pihak, termasuk pemerintahan incumbent menjadi risih dengan cap “neolib” yang dilekatkan kepada dirinya. Neolib menjadi popular dan dipopulerkan juga oleh media, dan hingga saat ini perjuangan kaum pergerakan melangkah maju setapak dalam merumuskan musuh idiologis dan musuh bersama, yakni idiologi pasar bebas (neoliberalisme) dan pemerintahan yang mengabdikan diri kepada mekanisme neolib. 

Gerakan Intervensi Pilkada Medan 

Pilkada Medan akan menghabiskan anggaran Negara (uang rakyat) sebesar Rp 61 Milyar, jumlah yang tidak sedikit tentunya, untuk dihabiskan dalam pesta elit politik tersebut. Lantas apa kepentingan kita dalam kompetisi elit-elit politik tersebut..? kepentingan kita adalah mengawal dan memberikan perpektif kerakyatan seminimalis apa pun dalam proses tersebut. Mengawalnya sama artinya dengan tidak membiarkan uang rakyat (anggaran Negara) hanya dipakai untuk menciptakan proses politik pilkada yang korup dan curang. Mengawal itu tidak hanya sebatas normative dan apolitis, namun juga harus menggagalkan potensi-potensi kecurangan yang akan dilakukan oleh kandidat yang paling pro terhadap neolib. 

Potensi tersebut sudah tercium dari diangkatnya Syamsul Arifin menjadi Pj Walikota Medan, yang artinya beliau saat ini sedang bertugas rangkap jabatan. Rangkap jabatan tersebut menyalahi aturan, yakni PP no. 06 tahun 2005 pasal 132 ayat 1, mengenai Pj kepala daerah haruslah diangkat dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan beberapa criteria. Pj Gubsu harus dari eselon I jabatan strukturalnya sekurang-kurangnya IV/c, sedangkan Pj walikota Medan harus eselon II jabatan strukturalnya sekurang-kurangnya IV/b. Menurut kami ini bukan persoalan pelanggaran tekhnis semata, tapi kami menduga bahwa ini adalah scenario untuk mempertahankan dan menancapkan sedalam-dalamnya dominasi neoliberalisme di daerah-daerah termasuk Medan. Sudah sangat jelas, bahwa Syamsul Arifin bukanlah PNS, dia adalah politisi dari Partai Golkar yang tidak akan mungkin bersikap netral dalam pilkada Medan. 

Saat ini Syamsul Arifin atas SK Mendagri adalah pemimpin tertinggi sementara di kota Medan yang membawahi pemerintahan terkecil seperti Kecamatan dan Kelurahan serta banyak instansi yang berada dibawah koordinasinya (termasuk KPU bukan..?) Saya berani bertaruh, bahwa tak ada satu orang pun politisi yang dapat bersikap netral dalam proses politik, atas keyakinan saya diatas, maka saya menduga bahwa ini adalah persoalan untuk memenangkan sang agen neolib yang dipercaya oleh partainya para neolib-neolib bersarang, yakni Partai Demokrat (Rahudman – Eldin). Hal ini menjadi lumrah mengingat posisi Demokrat yang sedang babak belur di hajar partai koalisi SBY dalam kasus Bailout Century. Jadi kepentingan kaum pergerakan dalam Pilkada, selain mendorong terselenggaranya proses Pilkada yang adil, jujur, bersih, demokratis dan berkualitas, yang syarat pokoknya adalah Pemerintah RI (Mendagri) harus mencabut SK Pj Walikota Medan, juga berkepentingan untuk mengawal potensi kecurangan yang akan dilakukan oleh Incumbent. Kepentingan yang tak kalah pentingnya adalah segera mendesakkan program-program darurat rakyat kepada para kandidat yang bertarung, agar rakyat dengan cepat faham, mana yang layak dipilih dan mana yang layak disingkirkan. 

Capaian maksimalnya, menurut sayai, Kaum pergerakan harus mampu mendesakkan ketetapan/peraturan yang mengatur tentang pencabutan mandat oleh rakyat atas kepala daerah yang terbukti gagal membawa perubahan, terbukti korup, dan melakukan perbuatan tercela. Proses pilkada langsung oleh rakyat juga harus diimbangi dengan proses pencabutan mandat langsung yang dijamin oleh Undang-Undang. Randy Syahrizal Ketua Komite Pimpinan Kota – Partai Rakyat Demokratik (PRD) Medan, dan Humas Komite Aksi Rakyat Medan (KARAM)

Sabtu, 10 Oktober 2009

Djaga Depari

Komponis nasional Djaga Depari tidak saja menulis lagu lagu romantika kehidupan orang karo tapi beliau juga menulis lagu lagu yang bernafaskan perjuangan rakyat karo menentang pendudukan bangsa bangsa asing dibumi Karo. Karya karyanya yang melukiskan perjuangan rakyat Karo inilah yang menasbihkan beliau sebagai seorang komponis nasional RI.

Djaga Depari dilahirkan di desa Seberaya, kecamatan Tiga Panah, kabupaten Karo. Dia tidak mempunyai pendidikan khusus di bidang musik tapi sangat piawai dalam menggesek dawai biola. Dia mengandalkan biola dalam meramu note note sebuah lagu.

Sebuah biola sangat menunjang perumusan note note lagu Karo yang memiliki kesenduan sebagai thema utamanya. Lagu lagu Karo yang diciptakan oleh Djaga Depari sangat mengena ditelinga orang Karo yang sangat menyukai lagu lagu sendu untuk menumpahkan suka duka kehidupan.

Apabila semangat patriotisme seorang Djaga Depari tergugah, maka note note lagu yang diciptakannya menjadi sangat berbeda . Langgam kesenduan lagu lagu Karo berubah menjadi hentak jiwa yang bergelora ingin membebaskan diri dari belenggu ketertindasan. Lagu “ Erkata Bedil ( Dentuman Senjata) “ menggambarkan semangat perjuangan yang dia embankan pada pemuda pemuda Karo untuk ikut mengangkat senjata melawan kuasa kuasa asing di tanah Karo walaupun pemuda pemuda itu sedang dilanda asmara. Lagu ini kemudian menjadi lagu nasional perjuangan rakyat RI.

Djaga Depari juga berpesan kepada pemuda pemuda Karo untuk mengutamakan kemerdekaan bangsa dan rakyat Karo. Hubungan hubungan romantis antara pemuda dan pemudi menjadi nomor dua dibawah kepentingan rakyat. Pesan ini dapat kita rasakan bila kita menyimak syair lagu “ Kemerdekaanta”. Dia melukiskan kata kata seorang pemuda kepada kekasihnya: “Bila kelak kita telah mendapatkan kemerdekaan negara ini, maka kita akan bersatu kepelaminan”. Ternyata memang semangat pemuda pemudi di Karo untuk memperjuangakn kemerdekaan menjadi membara dibawah komando seorang pemimpin tentara Djamin Gintings.

Dipuncak kreativitas Djaga Depari, keberadaan ekonomi dan teknologi tidak mampu mengangkat beliau kejenjang selibriti. Lagu lagunya tidak dapat diperdengarkan dengan mudah seperti dijaman ini. Lagu lagu itu hanya sering didengar dalam acara acara tahunan orang Karo didesa desa dinyanyikan oleh artis artis perkolong-kolong tanpa harus membayar royalti kepada Djaga Depari.

Djaga Depari menghabiskan masa masa tuanya dikampung Seberaya dengan menuliskan banyak lagu lagu Karo yang sekarang ini dengan mudah kita peroleh dalam bentuk pita kaset atau dvd yang diperdagangkan secara komersil. Beliau sudah mempersembahkan yang terbaik pada dirinya untuk bangsa Karo khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Untuk mengabadikan pengabdiannya, pemerintah propinsi Sumatera Utara mendirikan sebuah monument Djaga Depari dikota Medan.

Disarikan oleh:
Mangsi Gintings
E-mail: mgint0@uky.edu




Jumat, 09 Oktober 2009

EKONOMI POLITIK PERGANTUNGAN NEGARA-NEGARA MISKIN

Dengan menggunakan pendekatan ekonomi politik, tulisan esei ini akan mengkaji mengenai teori pergantungan yang mula dibincangkan pada akhir tahun 1950-an oleh Pengarah Suruhanjaya Ekonomi Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu, PBB untuk Amerika Latin, Raul Prebisch. Prebisch dan rakan-rakannya bimbang terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang tidak memandu kepada pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin. Dalam kajian mereka mendapati aktiviti ekonomi di negara-negara lebih kaya sering kali membawa kepada masalah-masalah ekonomi di negara-negara miskin. Ini bertentangan dengan dan tidak dapat diramal oleh teori neo-klasikal yang mengandaikan pertumbuhan ekonomi akan memberi manfaat kepada semua walaupun faedah-faedahnya tidak dikongsi secara sama rata.

Penerangan hasil kajian Prebisch mengenai fenomena tersebut sangat mudah iaitu negara-negara miskin mengeksport komoditi ke negara-negara kaya yang kemudian menukar komoditi menjadi barangan siap dan kemudian menjual balik barangan tersebut kepada negara-negara miskin. Nilai tambah yang berlaku semasa proses pengilangan untuk mencipta barangan siap berkenaan selalunya menyebabkan kos yang tinggi. Dengan itu, negara-negara miskin sentiasa tidak memperolehi pendapatan secukupnya daripada pendapatan eksport kerana terpaksa membayar lebih untuk barangan import iaitu barang pengilangan siap.

Penyelesaian yang dikemukakan oleh beliau juga kelihatan dapat dilaksanakan iaitu negara-negara miskin sepatutnya memulakan program-program untuk menggantikan serta mencari pengganti kepada barangan import tersebut supaya mereka tidak perlu membeli barangan kilang siap daripada negara-negara miskin. Negara-negara miskin juga perlu menjual produk-produk utama mereka di dalam pasaran dunia tetapi simpanan tukaran asing tidak digunakan untuk membeli barangan perkilangan dari luar. Bagaimanapun, terdapat tiga isu utama yang membuatkan polisi sebegini sukar untuk dilakukan iaitu:

.Pasaran domestik negara-negara miskin tidak cukup besar bagi menyokong ekonomi berskala yang digunakan negara-negara kaya bagi mengekalkan harga yang lebih murah.
.Isu kedua adalah membabitkan aspirasi politik negara-negara miskin sama ada penukaran daripada menjadi pengeluar komodoti kepada barangan perkilangan boleh dilakukan atau tidak.
.Isu terakhir adalah melibatkan ke tahap mana negara-negara miskin sebenarnya mempunyai kawalan terhadap produk utama mereka khususnya bagi penjualan barangan tersebut ke luar negara.

Pada masa tersebut, teori pergantungan dilihat sebagai cara mudah untuk menjelaskan kemiskinan berterusan di negara-negara miskin. Pendekatan tradisional neo-klasikal tidak pernah melihat isu kemiskinan ini sebaliknya mengatakan negara-negara miskin terlalu lambat untuk mengubah ekonomi kepada amalan-amalan yang lebih kukuh dan sebaik sahaja negara-negara miskin mempelajari teknik-teknik ekonomi moden, maka kemiskinan akan mula terhapus. Bagaimanapun, ahli-ahli teori Marxis melihat kemiskinan berterusan ini sebagai sebahagian kesan daripada eksploitasi kapitalis. Muncullah satu pemikiran baru yang dipanggil pendekatan sistem dunia berhujah bahawa kemiskinan adalah kesan langsung daripada evolusi ekonomi politik antarabangsa kepada divisyen tetap buruh yang mana menguntungkan pihak yang kaya dan menghukum yang miskin. Dengan itu, esei ini cuba mendalami mengenai kerelavanan teori pergantungan dalam konteks hari ini yang dilanda arus globalisasi serta cuba membincangkan mengenai teori ini secara lebih mendalam memandangkan ia adalah satu kajian terhadap yang dimulakan terhadap negara-negara Amerika Latin yang diselubungi isu kemiskinan yang berterusan.

Definisi
Definisi umum mengenai teori pergantungan adalah satu gagasan teori yang dibangunkan oleh pelbagai intelek dari dunia ketiga dan dunia pertama yang mengemukakan cadangan bahawa negara-negara kaya dunia memerlukan kumpulan preferi negara-negara miskin dalam usaha untuk mengekalkan kekayaan dan kekuasaan. Teori ini menetapkan bahawa kemiskinan di negara-negara periferi bukan kerana mereka tidak berintergrasi ke dalam sistem ekonomi dunia tetapi bagaimana mereka diintergrasikan ke dalam sistem tersebut. Negara-negara miskin ini menyediakan sumber semulajadi, buruh yang murah, menjadi destinasi teknologi dan pasaran kepada negara-negara kaya. Tanpa negara-negara kaya, negara-negara miskin dianggap tidak mampu untuk menikmati peningkatan tahap kehidupan. Negara-negara kaya secara aktif cuba mengekalkan pergantungan negara miskin yang dilakukan menerusi pelbagai sektor seperti ekonomi, kawalan media, politik, sistem perbankan dan kewangan, pendidikan, sukan dan semua aspek pembangunan sumber manusia. Sebarang percubaan oleh negara-negara yang bergantung untuk melepaskan diri daripada pengaruh pergantungan boleh membawa kepada sekatan ekonomi, pencerobohan ketenteraan dan kawalan. Bagaimanapun, perkara sedemikian begitu jarang berlaku kerana pergantungan diperkuatkan oleh negara-negara kaya melalui penetapan peraturan perdagangan antarabangsa dan sektor kewangan. Menurut Sunkel (1969), pergantungan boleh didefinisikan sebagai satu penjelasan mengenai pembangunan ekonomi negara dari segi pengaruh luar seperti politik, ekonomi dan kebudayaan terhadap polisi-polisi pembangunan kebangsaan. Manakala, Dos Santos (1971) menekankan dari segi dimensi sejarah terhadap hubungan pergantungan seperti petikan di bawah. “Dependacy is…an historical condition which shapes a certain structure of the world economy such that it favors some countries to the detriment of others and limits the development possibilities of the subordinate economics…a situation in which the economy of a certain group of countries is conditioned by the development and expansion of another economy, to which their own is subjected.”

Terdapat tiga ciri-ciri yang mempunyai persamaan mengikut definisi di atas yang dikongsi oleh ahli-ahli teori pergantungan. Pertama adalah pergantungan membentuk sistem antarabangsa yang terdiri daripada dua kumpulan negara yang digambarkan sebagai dominan/bergantung, teras/periferi atau metropolitan/satelit. Negara-negara dominan adalah negara yang mempunyai kemajuan industri di dalam Pertubuhan Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, OECD. Manakala negara-negara bergantung adalah Amerika Latin, Asia dan Afrika yang mempunyai pendapatan per kapita yang rendah serta bergantung sepenuhnya kepada eksport satu jenis komoditi untuk pendapatan hasil tukaran mata wang asing.

Keduanya, definisi di atas mempunyai persamaan dari segi andaian bahawa kuasa-kuasa luaran adalah satu-satunya aktiviti ekonomi yang penting di dalam negara-negara yang bergantung. Kuasa-kuasa luaran ini termasuklah syarikat-syarikat multi nasional, MNC, pasaran komoditi antarabangsa, bantuan luar, komunikasi dan kuasa-kuasa lain yang mana boleh dibawa oleh negara-negara maju untuk kepentingan ekonomi mereka di pasaran luar.

Persamaan ketiga adalah definisi pergantungan menunjukkan hubungan antara negara-negara dominan dan bergantung adalah dinamik kerana interaksi antara dua kumpulan negara ini bukan hanya sentiasa diperkuatkan tetapi juga mencetuskan corak yang tidak sama rata. Pergantungan adalah satu proses berterusan dan berakar umbi di dalam kapitalisme antarabangsa yang mempunyai proses persejarahan yang mendalam seperti dinyatakan oleh Bodenheimer (1971). “Latin America is today, and has been since the sixteenth century, part of an international system dominated by the now-developed nations…Latin underdevelopment is the outcome of a particular series of relationships to the international system.”

Seperti dinyatakan di dalam bahagian pendahuluan, teori pergantungan ini pertama kali dikemukakan oleh Prebisch dan diperkemaskan lagi oleh ahli teori Marxis iaitu Andre Gunder Frank dan diperhalusi oleh Immanuel Wallerstein melalui teori sistem dunia. Teori pergantungan menjadi popular pada 1960-an dan 1970-an sebagai kritikan terhadap ahli teori pembangunan popular yang dilihat gagal untuk menjelaskan isu kemiskinan yang semakin menular dan meningkat di sebahagian besar dunia. Sistem pergantungan dikatakan tercipta berikutan revolusi perindustrian dan pengembangan empayar Eropah yang kuat dari segi kuasa dan kekayaan. Sesetengah pengkaji berpendapat sebelum pengembangan empayar ini, eksploitasi hanya bersifat dalaman dengan ekonomi utama tertumpu kepada penguasaan wilayah. Bagaimanapun, dengan pengenalan corak perdagangan sejagat pada abad ke-19 telah membolehkan sistem ini meningkat ke tahap global.

Konsep underdevelopment yang dikemukakan oleh Gunder Frank adalah merujuk kepada satu situasi yang secara fundamental berbeza daripada undevelopment. Undevelopment merujuk kepada keadaan yang mana sumber tidak digunakan. Sebagai contoh, kuasa kolonis Eropah melihat benua Amerika Utara sebagai kawasan yang tidak maju kerana tanahnya tidak digunakan dalam skala yang konsisten dengan potensinya. Manakala underdevelopment pula merujuk kepada situasi yang mana sumber-sumber secara aktif digunakan tetapi digunakan melalui cara yang hanya menguntungkan negara-negara dominan dan bukannya negara-negara miskin yang merupakan pemilik kepada sumber-sumber tersebut.

Negara-negara miskin bukanlah ketinggalan dibandingkan negara-negara kaya dan mereka miskin bukan kerana mengabaikan aspek transformasi saintifik tetapi kemiskinan berpunca daripada dipaksa memasuki sistem ekonomi terutama Eropah hanya sebagai pengeluar atau pembekal bahan-bahan mentah serta memainkan peranan sebagai pembekal tenaga buruh yang murah. Memburukkan keadaan, negara-negara miskin telah dinafikan peluang untuk memasarkan sumber-sumber mereka kerana menimbulkan persaingan dengan negara-negara dominan.

Secara ringkasnya, teori pergantungan cuba untuk menjelaskan situasi negara-negara yang underdevelope di dunia dengan menganalisa corak-corak interaksi di kalangan negara-negara dan dengan menghujah bahawa ketidaksamarataan di kalangan negara-negara adalah bahagian semulajadi daripada interaksi tersebut. Dan Gunder Frank cuba menerokai isu kemiskinan di negara-negara kurang membangun dengan bertunjangkan falsafah keadilan dari segi sosial, ekonomi dan politik serta hak asasi manusia atau pun posisi etika di dalam amalan ketiga-tiga aspek tersebut. Tema utama di dalam teori ini juga merangkumi ekonomi dunia dan kebergantungannya yang menjadi semakin kuat. Teori ini memenuhi ruang keperluan kepada satu teori dan analisis terhadap struktur serta pembangunan sistem kapitalis sebagai satu unit yang berintergrasi dalam skala sedunia. Pemahaman kepada sistem ini penting dalam usaha merangka satu dasar dan pelaksanaan polisi yang praktikal sebagai tindakbalasnya. Bagi kes Amerika Latin, menurut Gunder Frank adalah kegagalan aspek politiknya untuk mencapai satu perubahan ekonomi dan sosial terutama dengan kejatuhan kerajaan Allende di Chile serta kegagalan Maoisme di China yang menjadikan usaha melarikan diri daripada sistem ekonomi dunia sesuatu yang mustahil walaupun teori ini dan teori sistem dunia dapat digunakan untuk menjana dasar politik, ekonomi dan sosial yang praktikal serta strategi dan taktik. Perbincangan Teori Pergantungan Mengikut Gunder Frank Dan Wallerstein Brewer (1980) menegaskan, underdevelopment adalah satu produk kapitalisme dengan mengaitkan kapitalisme dengan sistem dunia yang saling berangkaian dan berlaku pertukaran. Ia diperkuatkan pula melalui monopoli dan eksploitasi untuk berhujah bahawa “development of underdevelopment” adalah proses yang sedang berlaku di Amerika Latin dan masih tidak berubah sejak penaklukan Sepanyol dan Portugis iaitu bermula pada abad ke-16 lagi. Gunder Frank berhujah bahawa mana-mana bahagian dunia yang mana telah terdedah kepada sebarang cara fundamental oleh kapitalisme dianggap sebagai kapitalis. Beliau telah menunjukkan ekonomi kapitalis dunia telah menembusi Amerika Latin dengan begitu mendalam sehingga tiada bahagian benua tersebut yang tidak terjejas. Beliau memberikan contoh sektor pertanian sara diri seperti di Brazil turut bertukar menjadi industri untuk eksport. Aspek penghujahan ini ditujukan terhadap teori dualisme yang diaplikasikan terhadap Amerika Latin. Teori tersebut cuba mengekalkan idea bahawa kapitalisme adalah satu kuasa progresif, satu kuasa untuk pembangunan dan ekonomi negara yang mengalami underdevelop dibahagikan kepada dua sektor yang bebas.

Salah satunya adalah kapitalis yang moden dan progresif manakala satu sektor adalah sangat tua, tidak disentuh oleh kapitalisme dan bersifat feudal. Sektor tradisional tersebut dicirikan dengan sara diri domestik dan bebas daripada pasaran dunia. Pembangunan di dalam analisis ini, memerlukan pemindahan sumber daripada sektor feudal ke kapitalis dan transformasi umum atau pemodenan pertanian feudal serta di dalam struktur politik dan sosial. Model dualis ini telah dikemukakan oleh aliran Marxis dan juga bukan Marxis tetapi sasaran utama Gunder Frank adalah sosiologis borjuis dan saintis politik berbanding ahli ekonomi. Frank menunjukkan dengan kekayaan fakta dan sejarah, tiada bahagian di Amerika Latin yang tidak disentuh oleh hubungan pasaran. Persyarikan ke dalam sistem dunia kapitalis membawa kepada pembangunan di dalam beberapa sektor dan “development of underdevelopment” di tempat lain. “Development of underdevelopment” berlaku di dalam sistem dunia kapitalis yang dicirikan dengan struktur metropolis-satelit.

Metropolis mengeksploitasi negara satelit membolehkan keuntungan hanya dinikmati oleh metropolis pula terus miskin dan disingkirkan daripada dana pelaburan supaya pertumbuhannya menjadi begitu perlahan. Lebih penting, potensi satelit dikurangkan sehingga hanya menjadi negara yang bergantung yang mana telah membentuk satu kelas memerintah tempatan yang khusus dan mempunyai kepentingan untuk terus menjayakan agenda underdevelopment iaitu “lumpenbourgeoisie” yang menurut sahaja polisi-polisi underdevelopment atau dilabel oleh Frank sebagai “lumpendevelopment”. Sumbangan Frank di dalam teori ini adalah satu rantaian hubungan metropolis-satelit yang digambarkan seperti berikut yang terkandung di dalam bukunya “Capitalism and Underdevelopment in Latin America”: “The monopoly capitalist structure and the surplus expropriation/appropriation contradiction run through the entire Chilean economy, past and present. Indeed, it is this exploitative relation which in chain like fashion extends the capitalist link between the capitalist world and national metropolises to the regional centres (part of whose surplus they appropriate) and from these to local centres and so on to large landholders or merchants who expropriate surplus from small peasants ot tenants, and sometimes even from these latter to landless labourers exploited by them in turn. At each step along the way the relatively few capitalists above exercise monopoly power over the many below, expropriating some or all of their economic surplus, and to the extent that they are not expropriated in turn by the still fewer above, appropriating it for their own use. Thus at each point, the international, national and local capitalist system generates economic development for the few and underdevelopment for the many.” Menurut Frank rantaian hubungan metropolis-satelit ini telah wujud sejak abad ke-16 dan perubahan hanya dari segi bentuk eksploitasi dan penguasaan terhadap negara satelit. Ini dinamakan sebagai satu prinsip kesinambungan di dalam perubahan atau “continuity in change”. Selain itu, Frank turut menyentuh mengenai kesan-kesan politik iaitu kelas memerintah di negara-negara yang mengalami underdevelop menempatkan diri mereka di dalam rantaian hubungan itu yang berlaku di luar bandar sehingga ke negara metropolis dan mereka mempunyai kepentingan untuk mengekalkan kedudukan tersebut. “This colonial and class structure establishes very well defined class interests for the dominant sector of the bourgeoisie. Using government cabinets and other instruments of the states, the bourgeoisie produces a policy of underdevelopment in the economic, social and political life of the “nation” and the people of Latin America.”

Penghujahan ini merupakan bahagian terpenting dan merupakan analisis sejarah bagi Amerika Latin terutama tempoh selepas kemerdekaan pada abad ke-19. Ketika itu berlaku konflik antara pihak Eropah yang memulakan perdagangan bebas dan pihak Amerika yang memperkenalkan perlindungan kepada industri tempatan. Pihak Eropah yang diketuai oleh saudagar-saudagar yang mengendalikan perdagangan import dan eksport serta kepentingan eksport pertanian adalah merupakan pihak yang kuat dan mendominasi ekonomi serta memperolehi keuntungan daripada sistem ini. Seperti dinyatakan oleh Frank: “Free trade made imported manufactured goods available cheaply to the export agriculturalists, and the weakness of the local currency increased the value of exported products in terms of the depreciated currency, transferring income to those who sold goods for export. Local manufacturing industry was unable to compete with imports without protection, so perpetuating the imbalance.”

Dasar negara dilengkapkan untuk memenuhi sektor import dan eksport seperti cukai, pengagihan tanah, dasar imigrasi, pelabuhan, jalan keretapi dan sebagainya. Ringkasnya, “lumpenbourgeoisie” berorientasi Eropah ini mencipta “lumpenstate” yang menyebabkan kemerdekaan yang sebenar tidak dapat dicapai tetapi menjadi instrumen berkesan dalam meneruskan underdevelopment. Oleh itu, polisi negara adalah elemen paling kritikal dan penting di dalam pembangunan ekonomi.

Dalam membincangkan teori pergantungan, penting sekali teori sistem dunia oleh Wallerstein disentuh kerana pendapat bahawa mana-mana sistem sosial perlu dilihat secara menyeluruh dan negara bangsa di dalam dunia moden juga tidak boleh dikaji secara tersendiri kerana ia bukan satu sistem tertutup. Wallerstein menyatakan sistem dunia moden adalah kapitalis kerana ia adalah sistem ekonomi. “Capitalism and a world economy (that is, a single division of labour but multiple polities) are obverse sides of the same coin. One does not cause the other. We are merely defining the same indivisible phenomenon by the different characterisitics.” Mengikut Wallerstein, sistem dunia kapitalis dibahagikan kepada tiga jenis negara iaitu negara core atau teras, semi-periferi dan negara periferi. Perbezaan bagi ketiga-tiga jenis negara ini adalah jentera negara di dalam bidang-bidang yang berlainan dan ini sebagi timbal balas, membawa kepada pemindahan modal dari periferi ke negara teras yang kemudian menguatkan lagi negara tersebut. Kuasa negara adalah mekanisme utama memandangkan aktor-aktor di dalam pasaran cuba untuk mengelakkan operasi normal pasaran yang tidak memberi keuntungan maksima jika berpaling kepada negara negara untuk mengubah syarat-syarat perdagangan. Pada asalnya, pembahagian core-periphery diterangkan oleh faktor teknologi. Eropah Barat mengkhusus di dalam pengeluaran dan penternakan haiwan yang mana aktiviti-aktiviti ini memerlukan kemahiran yang tinggi dan dilakukan oleh buruh-buruh yang dibayar gaji agak lumayan. Struktur sosial adalah asas kepada negara kuat secara relatif dan membolehkan mereka menguasai pasaran untuk kelebihan mereka. Manakala, Hispanik Amerika hanya menjalankan aktiviti perlombongan dan Baltik di timur Eropah mengkhusus di dalam aktiviti yang memerlukan kemahiran rendah, maka kapitalis Eropah tersebut akan memilih melalui campur tangan negara, buruh paksaan dan mewujudkan kepentingan berbeza antara pengeluar dan kepentingan eksport produk utama. Hasilnya, negara menjadi lemah dan sedia untuk dikuasai oleh negara teras. Mereka kemudian menjadi periferi.Apabila divisyen negara tersebut wujud, core-periphery dikekalkan dengan kebolehan negara-negara teras untuk memanipulasikan perjalanan sistem secara menyeluruh bagi menyesuaikan dengan keperluan mereka iaitu negara teras. Mereka dengan sengaja melemahkan negara periferi atau menghapuskannya dengan penaklukan serta mengubah cara pasaran berfungsi melalui sekatan, monopoli, melindungi industri mereka sendiri dan menghalang periferi mengadakan halangan tertentu. Semi-periferi pula disifatkan sebagai negara aristokrasi buruh dan menjadi pusat kepada perubahan kerana negara semi-periferi ini boleh berubah menjadi negara teras dan negara teras yang semakin lemah akan berubah menjadi semi-periferi. Wallerstein menganggap buruh sebagai komoditi.

Idea Wallerstein ini mencadangkan supaya sistem dunia dari semua segi perlu dilihat secara menyeluruh dan pelaksanaan sistem dunia ini menghasilkan cara-cara kawalan terhadap buruh yang penting kepada sistem pengeluaran negara teras. Apabila kedua-dua aliran teori pergantungan ini menyentuh mengenai sistem dunia dan dikaitkan pula dengan kapitalisme, maka timbul satu persoalan umum adakah ianya masih lagi relevan memandangkan evolusi yang dialami oleh kapitalisme pada era ini dengan tersebarnya globalisasi ke seluruh pelusuk dunia dan pergerakan modal serta peranan syarikat-syarikat multi nasional, MNC. Dengan perkembangan demokrasi juga telah meningkatkan pengaruh liberalisme dan neo-liberalisme yang membenarkan kebebasan individu mencari keuntungan maksimum, ideologi yang membenarkan pencarian harta kekayaan melalui apa cara sekali pun dan andaian bahawa apabila pengeluaran meningkat maka permintaan untuk peluang pekerjaan turut meningkat. Persoalan kekurangan modal di negara-negara miskin untuk memulakan program yang dapat membebaskan diri daripada pergantungan juga dijadikan hujah bagi membalas teori pergantungan ini. Negara miskin juga terlalu bergantung kepada satu atau dua produk utama, kekurangan tenaga mahir dan kelemahan dari segi kewangan mencukupi, komunikasi dan infratruktur pengangkutan misalnya. Kekurangan negara-negara miskin kemudian diisi oleh kelengkapan teknologi dan peralatan melalui pelaburan negara-negara kaya. Dengan andaian-andaian tersebut, esei ini akan membuat penilaian sama ada teori pergantungan masih relevan atau pun tidak dengan evolusi yang dilakukan oleh kapitalisme. Jika teori pergantungan oleh Gunder Frank menekankan kepada penggunaan sumber yang aktif tetapi hanya memberi keuntungan kepada negara kaya dan bukan negara pemilik sumber tersebut yang terdiri daripada negara miskin, pada era globalisasi dan sistem perdagangan dunia yang telah berubah, maka peranan modal yang dipandu oleh MNC telah mengubah senario ini. Ia bermaksud, hubungan antara negara kaya dan miskin bukan lagi berasaskan penyediaan sumber seperti komoditi melalui eksport dan import barangan siap oleh negara miskin tetapi telah mengalami perubahan dengan adanya peranan modal atau disebut Foreign Direct Investment, FDI. Melalui FDI, negara yang menerima pelaburan asing menyediakan tenaga buruh yang murah, sumber dan persekitaran yang kondusif untuk pelaburan. Seperti yang dijelaskan Eichengreen (2003) menyatakan bahawa pergerakan modal sebagai penjana pembangunan dengan menyalurkan sumber, teknologi, pengetahuan berorganisasi dan pemangkin kepada perubahan institusi. Tugas polisi atau dasar pula untuk menggalakkan pengaliran modal dari negara pemodal yang kaya ke dalam negara-negara yang miskin ekonominya. Hasil daripada FDI yang membawa bersama teknologi dan kepakaran, sebahagian negara-negara miskin, kurang membangun dan negara-negara dunia ketiga kini telah banyak berubah menjadi apa yang dinamakan negara sedang membangun dan negara industri baru. Jika ini diambilkira, faktor FDI atau pelaburan modal luar sedikit sebanyak sebenarnya telah membantu negara-negara seperti di rantau Asia termasuklah Malaysia, Taiwan, Indonesia dan lain-lainnya untuk muncul sebagai salah satu kuasa ekonomi. Perkembangan globalisasi yang mendorong dunia tanpa sempadan bagi pengaliran modal, buruh dan perdagangan dunia mungkin memerlukan pengubahsuaian semula teori pergantungan oleh Gunder Frank. Bagaimanapun, aspek pelebaran kuasa kapitalisme juga tidak dinafikan terus kukuh di dalam sistem dunia berikutan perkembangan-perkembangan baru ini kerana modal, FDI dan teknologi masih berasal dari negara-negara kapitalis kaya. Hubungan terkini antara negara-negara di dalam sistem baru dunia ini mungkin dijelaskan dengan lebih tepat oleh teori sistem dunia yang dikemukakan oleh Wallerstein. Ini kerana dunia yang sedang membangun dan negara-negara miskin memerlukan kewujudan negara teras atau core untuk mendapatkan bantuan bagi kemajuan ekonomi mereka. Negara-negara teras secara konsisten menjadi penjana FDI utama dunia dan mampu mengekalkan corak penguasaan terhadap negara-negara yang memerlukan bantuan mereka dalam membangunkan ekonomi sejagat. Oleh itu, proses untuk membebaskan diri oleh negara-negara kurang membangun ini dilihat begitu mustahil dilakukan lebih-lebih lagi dengan penubuhan blok-blok perdagangan serantau yang ingin membina satu bentuk perlindungan kepada industri masing-masing. Percubaan untuk memasuki rantau kerjasama perdagangan tersebut oleh sebuah negara dari rantau lain begitu sukar dan perlu mematuhi pelbagai syarat yang akan melonggarkan peranan kawalan negara terhadap pasaran, misalnya penghapusan pelbagai bentuk cukai dan tarif. Contoh lain daripada isu ini adalah kemasukan China ke dalam Pertubuhan Perdagangan Dunia, WTO yang mana China telah dipaksa mematuhi syarat-syarat seperti meningkatkan tahap hak asasi manusia sebelum diterima masuk untuk memperolehi kelebihan dalam perdagangan dunia. Rumusan Daripada perbincangan mengenai teori ini dari sudut ekonomi politik, dapat dilihat bagaimana evolusi sistem dunia kapitalisme itu sendiri yang sentiasa diperkemaskan untuk membolehkan pengukuhan dunia negara-negara maju dari segi kekayaan di dalam sistem antarabangsa dan seterusnya mengekalkan penguasaan terhadap negara-negara yang kurang maju. Negara-negara yang cuba menghalang atau mengelak daripada perjalanan sistem dunia ini seperti globalisasi hanya mengakibatkan kesan lebih buruk seperti terus ketinggalan daripada arus kemajuan ekonomi. Bagi negara, tindakan tersebut adalah sesuatu yang merugikan dan menjadikan pergantungan adalah proses yang berterusan.

Kamis, 08 Oktober 2009

Kumpulan Puisi Perburuhan

Wowok Hesti Prabowo

Marsinahis


Tuan-tuan selamat malam
Marilah sejenak sepenuh hati kita terkonsentrasi
pada sosok pahlawan kita
Bernama : Marsinah !

Tuan-tuan, sebelumnya perlu kutanyakan
pernahkah tuan-tuan berjalan-jalan, bergabung
buruh dilorong-lorong industri Tanggerang,
Bekasi, Pulogadung, Rungkut dan deretan pabrik-pabrik
sepanjang jalan yang pernah tuan-tuan temui?

Buruh kita benar-benar mengenaskan!
Buruh salah ditendang, dipukul
banyak dilakukan
Buruh wanita diplester mulutnya
Buruh disekap, diperas tangannya tanpa bayaran
sering ditemui
Hak-hak buruh diperkosa, itu kata tepatnya
Buruh bak sapi perahan, juga pantas dilontarkan
Buruh tak bebas berserikat adalah fakta sulit dibantah
Buruh dibayar murah menjadi kebanggaan kaum konglomerat

Itu bukan hanya berita koran
Atau cerita buruh yang dibesar-besarkan
Bukan
Adalah wajah bobrok buruh kita!
Dan lahirlah Marsinah melawan kebobrokan itu
Marsinah kritis dan idealis
Pejuang sejati kaum buruh
Marsinah pintar hingga rahasia kebobrokan pabriknya
terbongkar
Marsinah vokal dan pemberani
Memimpin kaumnya mogok
Memperbaiki yang bobrok
Untuk itu Marsinah rela mati amat mengenaskan
Sama mengenaskan dengan nasib kaumnya
Vagina ! Ya, vagina Marsinah disodok dengan tongkat
Diputar-putar, disodok hingga telak!
Seorang wanita telah dinatai srigala-srigala jantan
tanpa daya !
selaput dara robek, tulang kelamin bagian depan hancur
luka tembus usus bawah
dagu memar
lengan dan paha lecet-lecet
perutnya bolong sedalam duapuluh sentimeter dua liter darah muncrat

Sang pejuang telah wafat
Buruh Nusantara tundukkan kepala

Tuan-tuan yang terhormat
Masih kurangkah monumen derita buruh nusantara
tuk perbaikan nasibnya?
Dan masihkah kita kata salah Paman Sam
mengancam cabut fasilitas GSP?
Kita punya patriotisme benar, nasionalisme benar
Bukan patriotisme membabi buta!
Kita tak senang tetangga kita mendikte
Tetapi sebagai insan bertetangga kita tak salahkan
bila tetangga tak kirim kue sedapnya
karena kita telah mensengsarakan pembantu kita
Kita tak pantas memeras buruh hingga sakit-sakitan
Kita sangat tak bijaksana membungkam mulut kaum buruh
hingga suara hati nggumpal di dada
dan njelma dendam!
Itu super bahaya!
Gumpalan-gumpalan dendam di dada
bisa njelma kebencian dahsat

Untuk itu tuan-tuan
Sebaiknya kita intropeksi diri
Setulus-tulusnya
Mau tak mau membebaskan buruh dari belenggu

Tuan-tuan
Marsinah telah tiada
Tapi getaran semangatnya membara
Dada buruh nusantara
Tuan-tuan,
Diakui atau tidak
Marsinah adalah PAHLAWAN kita!

Tuan-tuan,
Marsinah adalah Marsinah-Marsinah lain dinegeri ini?
Mari kita tundukkan kepala
Pandang wajah-wajah luka dan teriak-teriak
Marsinah-Marsinah nusantara


Bendera Marsinah dan Budhi Surbakti

Bendera perjuangan masih berkibar, pabrik
pabrik nusantara luka dalam
: Marsinah mati mengenaskan

Keluh buruh masih trenyuh. Potret
compang-camping wajah buruh. Tertempel
tempel tembik-tembok pabrik angkuh
:sang pembela telah tiada
ia Budhi Surbakti!
Dua bendera putih berkibar. Ternodai
darah muncrat dimana-mana. Meski
bisu dikibarkan angin. Khabar
kabur nysup dada buruh
hati teguh mata luluh

Kulihat pabri-pabrik
bendera Marsinah dan Budhi berkibar
hati buruh
damba keadilan dan kebebasan
Selamat jalan Marsinah dan Budhi
Benderamu kan kibarkan pucak perjuangan!

Tanggerang 1993


Moktar K

Bogor, 12 Agustus 1993 Marsinah

Kabar itu datang
Menerobos disetiap tembok-tembok pabrik
Singgah dirumah-rumah kontrakan buruh
Kabar untuk kawan buruh

Dibawah cerobong pabrik yang menjerit-jerit
Kawan datang, menggenggam tinju, berkata tenang
Seorang buruh milik kita : Marsinah
Mati terbunuh oleh bangsat, orang-pun gagap

Berita dikoran menyebar, hanyalah cerita
Menuntut keadilan yang belum berkata
Tapi dari Marsinah, buruh belajar
Bagi buruh dia pahlawan, bagi mereka penghalang

Jika buruh mati, demi menuntut sesuap nasi
Itu pertanda bagi yang menciptakan penghisapan
Buruh yang diwarisi penghisapan telah sadar meninggalkan
pertanda kehadiran
Kekuatan telah tiba untuk memenjarahkan penghisapan




Melawan
(Puisi buat : Marsinah)

Telah kau buktikan, bahwa :
pembangunan yang telah ditempuh
bermandikan keringat dan darah buruh
lalu kau berikan contoh
dari apa-pun, kau pilih keadilan
yang haram menyerah, takluk pada ancaman pada segala yang bernama : penindasan

Ketika mulut mungilmu
menbuka suara
cabut keputusan PHK sepihak
maka :
kekuasaan menjadi kalap
para setianya kehabisan alasan
kekuatan-kekuatan iblis dibangkitkan
kebenaran, keadilan dan kemanusiaan
sirna sudah
lalu, membunuhnya
hanya demi didengarkan
kata-kata sederhana : keadilan

Kini kau perlihatkan, bahwa :
mereka yang mengatas namakan
pelindung rakyat
yang bersumpah atas nama wibawa
tidak lain hanyalah calo
yang biasa memperdagangkan buruh
yang rela membunuh buruh
hanya untuk uang, pangkat dan kedudukan

Sesungguhnya haruslah diingat !
buruh yang terbiasa hidup menderita
telah mampu melihat
segala kepalsuan
yang hendak disembunyikan
lalu buruh-pun akan memilih
seperti kau
melawan!!!


Wowok Hesti Prabowo

Partai Buruh Indonesia

Ketika hatimu jujur melihat buruh tak mujur
Ketika hatimu sakit hak buruh tak boleh diungkit
Ketika hatimu gundah hidup buruh kian susah
Ketika hatimu hancur suara buruh tak tersalur
Ketika hatimu tertunduk mengapa Partai Buruh tak dibentuk


Musim Mogok

Musim mogok
mari lakukan penuh suka
agar kelak kita petik hasilnya
Musim mogok
tak apa becek sedikit
tak apa berantakan sedikit
asal kita sama-sama mogoknya
sama pula membersihkannya

Musim mogok
egois dan pengecut bila tak ikut

Musim mogok
siapa pula mencegahnya?
semoga konglomerat tobat
Musim mogok tak berkepanjangan


Suara-suara Buruh

Suara buruh membelah kota
Suara buruh digelar dijalanan
Suara buruh hiasi lembar koran
Suara buruh usik tidur direksi
Suara buruh merahkan telinga birokrat
Suara buruh nusuk dada dewan rakyat
Suara buruh retakkan tembok industri
pabrik-pabrik, hotel dan bank
Suara buruh lama terpendam tengah kota
tercecer sepanjang jalan
tertutup lembar koran
tersimpan laci birokrat dan dewan rakyat
Suara buruh kian berkumndang
Sepanjang tahun ini


Buruh Wanita Kita

Buruh wanita kita
menguasai pasar kerja
mereka disuka mengapa

Buruh wanita nusantara menerima, telaten, sabar
senantiasa patuh majikan kata apa
senantiasa taat perintah-perinta
senantiasa sedikit ulah tak banyak tingkah

Buruh wanita nusantara kuasai pasar kerja
dibilang kuwalitas rendah hingga upah amat murah
tamat sekolah dasar rata-rata

Buruh wanita kita
berdesak-desak sepanjang hari sepanjang lorong
wajah kusut pakain seadahnya
sendal jepit setia amankan kakinya

Di pabrik buruh wanita dijaga ketat
satpam setia kawal saat kencing dan sholat agar efesiensi dan produktivitas tak terhambat

Buruh wanita tak boleh bengal
sinar mentari teramat mahal

Duhai kawan,
Buruh wanita kita telah disalahgunakan
Kesabaran budi ketabahan hati dibalas dengan tai!
Cuti hai tak diberi
Aku saksikan satpam tempelkan kapas pada vagina
buktikan bercak merahnya!

Cuti hamil buruh wanita banyak diabaikan
Dianggap tak produktif buruh bodoh hamil di phk

Buruh wanita buta hak-hak tak bisa dipungkiri
lantas aneka dalil kebodohan dijejalkan
lagu kebodohan didendangkan
oleh supervisi yang hatinya terkontaminasi
sikap manipulasi dan kolusi

Duhai kawan
Buruh wanita kuasai pasar nusantara
mengapa tak diguna?
Kesewenangan saatnya ditentang
Ketak-adilan saatnya dihentikan

Buruh wanita bangkitlah!
Jelmakan kelemahan jadi kekuatan
Dua ribu buruh wanita haruskah ditindas
duapuluh kepala bagian?
Berhentilah kerja maka kerugian akan berlipat ganda
Menjeritlah manakala terhimpit
Beringaslah manakala hak-hak ditebas!

Buruh wanita bila seia-sekata
kekuatan melebihi dasyat gelombong samudra
Maka kusaksikan buruh wanita
mogok dimana-mana
berhadapan dengan pengusaha
berhadapan dengan penguasa
berhadapan dengan tentara
menuntut kemerdekaan haknya

Di musim ini
Buruh wanita nusantara
bangun dari tidurnya

Tanggerang 1994


Moktar K

Mari Kumpul Belajar dan Diskusi

Mari, mari kawan!
berkumpul bersama-sama
jangan malu-malu
jangan bimbang dan ragu
jangan cemas dan takut
mari kumpul belajar dan diskusi

Biar hanya lulus SD
tak harus menghentikan belajar
biar hanya buruh
tak harus menjadi bodoh
jangan nolak ilmu
biar tak tertipu
mari kumpul belajar dan diskusi

Belajar dan diskusi
bukan hanya milik penguasa
pengusaha
pelajar
juga pengajar
buruh juga bisa
mari kumpul belajar dan diskusi

Jangan mengadili
sebelum tahu
mari buka lembaran buku
belajar dan diskusi bersama aku
mengadili setelah tahu
memilih yang dimau
membuka lembaran baru
mari kumpul belajar dan diskusi

mari-mari kumpul!
Ahmad
Sitorus
Sri
Oskar
Encep
mari kumpul belajar dan diskusi

Depok, Januari 1995


Lorong

Lorong menuju pabrik ke pabrik
yang tak pernah berhenti
dari jejak langkah buruh
rintihan sehabis kerja kesal, waktu yang mepet, takut terlambat
Lorong
tempat buruh bertemu
suara terpadu
kamunikasi berjalan
selebaran beredar
bisik-bisik mengusik
keluh kesah penghisapan
pelecehan sexsual
phk sepihak

Lorong
suara-suara sayup
rencana pengembalian kawan
untuk bekerja kembali
ajakan bersatu
menghitung keuntungan kapitalis
tuntutan mogok
senjata yang paling utama
malawan penindasan
untuk merdeka

Lorong
semakin hari semakin jelas
langkah-langkah pasti
suara-suara terarah dan jelas
makin jelas kekuatan buruh
makin menyebar berita buruh
berita kemengan

Bogor, Oktober 1993


Sejuta Pengganti

Biar kau pecat aku
Keputusanku adalah keinginan merdeka
Yang biasa menyatu dalam luka dan juang
Tak kan terhenti dari vonis yang menyiksa
Dari banyaknya luka yang berharga

Setiap kata yang kutabur
adalah kuman para majikan
Setiap jalan yang kutempuh
Adalah keyakinan pembebasan taip penindasan

Biar kau peralat tiap aparat
Perjangan-ku tak kan pernah sekarat
Dari setiap penindas yang keparat
karena otak-otaknya sudah mengkarat

Biar kau pecat aku, tidaklah masalah
Biar kau tindas aku, tidaklah berubah
Toh, perjuanganku bukanlah sendiri
Yang bermula dari penindasan Tak kan berhenti karena aku di buih
Karena akan tumbuh : sejuta pengganti

Citeureup, Juni 1993


Buruh

Sebuah kata tak enak
terhampar diseluruh lapisan jagad
buruh... buruh dan buruh
begitulah orang menjulukinya

Tak dapat dipungkuri lagi
buruh jadi mangsa peradaban
tuntutan ekonomi yang sangat tinggi
memaksa menarik nafas berat
dalam arus globalisasi

kian hari kian terdesak
demi hidup dan kehidupan
ada jarak yang jauh antara jasa dan imbalan
sebanyak keuntungan tak dapat digenggam
lenyap bersama jeritan dan derita

mengapa ada mogok kerja?
mengapa ada unjuk rasa?
tak perdulikah penguasa pada nasibnya?
akh...

manis memang ....
buruh jadi korban produksi
berbagai julukan hina disandangnya
haruskah selalu begitu?
terejam dan tertindih sang penguasa
siapakah yang salah?

14 Desember 1992
(Diterbitkan oleh Suara Buruh edisi pertama)

Robot/Mesin

memang kuakui aku bukan robot/mesin
Juga bukan apa-apa dibanding dengan mereka-mereka
yang lebih janggih dan sok janggih

Bukan....
aku bukan mereka yang kerja tampa lelah
tapi...aku anak manusia yang perasa

Tapi aku ....
tetaplah aku
bukan dia atau mereka

Ngadimin (diterbitkan oleh buletin "Suka" Agustus 1994)


Upah

Kuperoleh dengan susah payah
siang malam tak kenal lelah
karena lembur tak pulang ke rumah
kerja panjang upah rendah
tak jarang berkeluh kesah
Oalaaaaaahh....sungguh susah

Resah gelisah dan gundah oleh masalah
kerja keras susah payah
upahku rendah!
ekonomiku lemah!
iyuuuuuuuungalah!!

Sungguh aku bersumpah
akan minta naik upah
kuajak kawan mememcahkan masalah
menyusun strategi yang searah
yang mudah tidak dipecah belah
karena kami tak ingin kalah

Kacung Jongos Cimidi
(diterbitak di Kumpulan Berita Buruh, edisi Des'94

Harus !!!

Aku harus bangun pagi
aku harus mandi antri
kamar mandi hanya sebiji
dan akupun lama berdiri

aku harus berlarian
aku harus berdesakan
bus satu mngangkut banyak
karena penguasa ingin berhemat

aku harus terima upah rendah
aku harus hidup sekarat...
harus..harus
akupun harus lawan !!ketidak adilan....

Diterbitkan oleh Cerita kami edisike 9 '94



Kumpulan puisi Jaker

Kalau kain merah sudah kami bentangkan
Itu pertanda darah kami sudah bergolak
Karena amarah dalam dada
Karena sebuah penindasan

Kalau bintang merah sudah ditengah
Itu pertanda kami bangkit dan melakukan perlawanan
Apa yang mebuat dirimu ketakutan
Ketakutan adalah bayang-bayang yang sangat menakutkan
Memang keberanian harus dilatih kawan
Kalau tidak
Kita akan selalu ditindas
Penindasan itu akan selalu datang
Penindasan demi penindasan
Kalau kita tidak berani melawan bayang-bayang
Matilah kita dalam sebuah proses kehidupan.


Pesan sang Ibu

Anakku aku tidak bisa memberi apa-apa
Hanyalah bunyi genderang perang kabar dari ayahmu
Saat ini aku berada di persimpangan jalan
Apakah aku harus meilih berjalan diatas kebenaran ataukah kedamaian
Ternyata aku memilih kebenaran
Biarpun kebenaran itu penuh darah dan nanah
Apalah arti kedamaian kalau hanya menjadi budak
Tidak anakku
Kalian tidak boleh jadi budak di negeri sendiri
Mereka sengaja memberi mimpi tentang kedamaian
Sementara kebenaran sudah dirobek-robek
Jiwa dan raga kita telah tercabik-cabik
Terbuang dalam lautan debu yang sangat hitam
Anaqkku
Biarpun aku rindu, rindu untuk memelukmu
Rindu untuk membelaimu
Rindu untuk menumpahkan kasi sayang
Namun aku relakan kerinduan ini auntuk tetap berjuang
Apa bila ditengah padng terdengar suara genderang perang
Disanalah ayahmu mengangkat pedang
Anakku apabila aku harus mati nanti
Dengarlah ka5ta-kataku ini
Kebenara tidak akan pernah terwujud
Kalau tidak kita rebut


Sajak tanpa kata
Inilah katakatku yang pertama
Biarlah negeri ancur
Sebab negeri telah carut marut
Para senimannya asik beronani dengan seninya
Para elit politiknya ribut tak karuan
Mulutnya berbusa
Sementara tangannya yang hitam bergentayangan kemana saja
Mereka peisilat lidah
Menyembunyikan tangannya yang berlumur darah
Dengan meminjam bait-bait suci tuhan
Negeri ini sudah tak bertuan kawan
Sebab para penguasa hanya sibuk bersuara tanpa makna
Karena itu kita mesti kepalkantinju
Memkul mulut mereka yang bau
Memotong tangan mereka yang penuh dengan dosa
Apa lagi yang kalian tunggu
Menunggu, tak akan pernah menghasilkan apa-apa
Selama badut-badut itu masih bisa kentut
Kita pasti akan ditikam dari belakang
Selama badut-badut itu masih bisa bernafas
Kita pasti akan digilas
Mari bersama-sama kita lemparkan mereka ke kantong sampah
Kita benamkan e umpur hitam
Agar mereka diam tak bersuara
Lalu mati tak bernyawa